Friday, May 17, 2013

The Greatest Love of All



The Greatest Love of All

Mario Wiran
(Sebuah catatan reflektif dari buku kisah-kisah di balik jubah)



Memaknai Cinta dalam Hidup BerPMKRI

Di dalam suatu pengorbanan terdapat bukti cinta. Manusia adalah mahkluk yang selalu mencinta dan dicintai. Malah cinta menjadi kebutuhan dasar hidupnya. Manusia hidup karena dan untuk cinta. Atas nama cinta, manusia rela mengorbankan segalanya. Cinta memberi nafas kehidupan bagi setiap manusia. Singkatnya, sejauh manusia masih berdiam di bumi ini, sejauh itu pula cinta hidup dan mewarnai kehidupannya. Karena itu, bagi saya, hakikat atau inti terdalam dari cinta yang harus kita hidupi dalam perjalanan kita adalah suatu pemberian diri. Pemberian diri secara total bagi orang lain. Memberi diri berarti mengarahkan seluruh tenaga dan perhatian, seluruh potensi diri, daya yang hidup dalam diri kita, bahkan diri kita sendiri bagi orang lain. Memang sulit dan terlalu ideal. Sebab, dewasa ini cinta sering dilihat lebih berdasarkan perhitungan matematis, untung rugi. Kalau demikian jadinya, berarti cinta yang kita hidupi tidak bermakna sedikitpun. Ingatlah, cinta sejati adalah sebuah pemberian diri. Ibu Teresa dari Calcuta pernah mengatakan: TO LOVE UNTIL HURT (Mencinta Hingga Terluka). Contoh paling jelas dari sikap “mencintai hingga terluka” adalah Yesus sendiri. Dia memberikan diri-Nya sendiri disiksa, terluka sehingga wafat di salib, semua karena besarnya cintaNya kepada manusia. Dinamika perwujudan cinta yang benar berlangsung tanpa syarat. Bukan cinta yang bersyarat, penuh dengan perhitungan matematis. Cinta tanpa syarat selalu bersifat terbuka kepada yang lain, memberi tanpa menuntut balasan, berbuat tanpa menuntut imbalan. Cinta tanpa syarat melampaui kepentingan diri. Sekali lagi, sama seperti Kristus mencintai tanpa syarat, demikian juga kita dituntut untuk berbuat yang sama dalam segala situasi.

Cinta hanya dapat dirasakan dan dialami dalam kehidupan ini. Upaya pelestarian atasnya pun butuh perjuangan tanpa henti. Pada saat orang berhenti mencinta, di sana nyanyian “requiem” akan membahana. Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan cinta-Nya dalam hidup ini. Pilihan untuk mencintai secara khusus didedikasikan bagi mereka yang miskin dan tertindas. Hal ini jelas ditegaskan dalam visi PMKRI yaitu: “Terwujudnya keadilan social, kemanusiaan dan persaudaraan sejati”. Melalui perjuangan dengan terlibat langsung dalam permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan disemangati oleh nilai-nilai kekatolikan memberi harapan besar agar tercapainya visi tersebut. 

Sebagai mahasiswa katolik, terlebih seorang kader PMKRI, setiap orang mempunyai tanggungjawab dan kewajiban untuk membawa bangsa Indonesia menghayati nilai Kekatolikan, pro rakyat miskin, damai, makmur dan sejahtera. Sebagai mahasiswa katolik kita tidak boleh duduk santai dan acuh tak acuh, bahkan melarikan diri dari permasalahan jalannya ketatanegaraan yang tidak karuwan dan yang mengakibatkan masyarakat kebanyakan mendertia baik secara fisik, psikis maupun rohani.

Memilih Untuk Hidup Selibat

Manusia adalah makhluk yang bertumbuh dan berkembang. Mulai dari lahir, bertumbuh, dewasa dan meninggal itulah siklus hidup manusia. Manusia juga berkembang secara psikologis, emosi, fisik, dan sebagainya. Dalam perkembangannya manusia harus membuat banyak pilihan itu konsekuensi logis dari suatu hidup. Diantara banyak pilihan yang ada, manusia harus memilih profesi atau pekerjaan. Manusia memiliki kehendak bebas (free Will), kebebasan yang bertanggung jawab tentunya. Setiap orang mencari makna dalam hidupnya di dalam profesi yang dijalani, namun terkadang rutinitas membuat orang juga kehilangan makna hidupnya.

Setiap profesi mengandung berbagai macam konsekuensi. Seorang sekretaris memiliki konsekuensi menjaga rahasia perusahaan. Seorang designer memiliki konsekuensi kerja lembur tanpa upah tambahan. Seorang dokter memiliki kon-sekuensi siap untuk dipanggil saat malam untuk operasi darurat atau saat pasien kritis. Seorang guru memiliki konsekuensi mendapat upah yang relatif sedikit. Demikian pula seorang biarawan juga memiliki konsekuensi. Konsekuensi yang dihadapi seorang biarawan adalah berkaitan dengan 3 kaul yaitu kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan. Sepintas jelas bahwa hal-hal tersebut membatasi biarawan untuk memaknai hidupnya seperti orang-orang pada umumnya misalnya menikah, bebas, dan menikmati kekayaan.

Seorang biarawan harus hidup terpisah dari dunia ramai. Slot atau klausura (pingitan) merupakan perwujudan konkret dari pemisahan diri dari dunia serta menjamin ketetapan hati yang terarah pada Allah. Mengutip ceritera “Ada Resah di Balik Jubah” (Kisah-kisah di balik Jubah halaman 111) dimana mengisahkan tentang pengalaman seorang Romo yang sempat mengalami keresahan. Saat itu yang menjadi persoalan bukan bagaimana biarawan bangun jam 03.15 WIB dan bukan pula pada keharusan mengikuti rutinitas harian biara, tetapi harus dihadapkan pada suatu pergumulan hidup yang sungguh sangat memberatkan. Salah satu kerinduan yang terdalam darinya adalah merasakan kasih dari kekasihnya. Suatu pergumulan yang pada akhirnya juga meresahkan sebagai sesama kaum berjubah namun pada akhirnya dengan menyadari panggilan hidup dan cinta Allah dalam hidup, Romo Matius memahami keresahan temannya Romo Lukas dan memutuskan untuk memberi support dan mendoakan romo Lukas agar tetap pada panggilan sucinya.

Ceritera yang dikisahkan dalam buku “Kisah-Kisah Di Balik Jubah” menegaskan bahwa makna hidup sesungguhnya didalam kaul kemiskinan, kaul kemurnian dan kaul ketaatan yang dihidupi oleh kaum berjubah cukup dinamis karena ada saat dimana seseorang biarawan sempat bimbang dan mengalami kebosanan sebelum akhirnya merasa bahwa Tuhan benar-benar memilihnya sebagai seorang biarawan. Hidup sebagai kaum selibat merupakan pilihan yang sungguh berarti, karena tugas seorang biarawan sungguh penting dan sangat dibutuhkan dan bermanfaat tentunya. Tidak ada kesalahan untuk memutuskan untuk hidup selibat. Melalui pelayanan dan aktifitas menggembalakan umat seorang biarawan merasa hidupnya menjadi lebih bermakna dengan melayani umat, melakukan tugas-tugas dengan baik, melayani serta menolong orang yang membutuhkan sehingga seorang biarawan tidak terfokus terhadap kehidupan seksual, harta kekayaan dan tentunya bebas melakukan ketiga kaul tersebut. Memilih untuk menjadi selibat karena mencintai umat manusia. Mencintai tentunya perlu diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Melayani dan mengasihi merupakan beberapa contoh kongkrit kehidupan seorang biarawan/ti. Semua ini dilakukan demi mewujudnyatakan cinta Allah dalam hidup ini. (Semoga)

Wednesday, May 1, 2013

BURUH: Working Class Hero


BURUH: WORKING CLASS HERO

Yohanes Leonardi
 Presidium Pendidikan dan Kaderisasi PMKRI Yogyakarta
Santo Thomas Aquinas

 As soon as you're born they make you feel small
By giving you no time instead of it allTill the pain is so big you feel nothing at all
They hurt you at home and they hit you at schoolThey hate you if you're clever and they despise a foolTill you're so crazy you can't follow their rules

When they've tortured and scared you for twenty odd yearsThen they expect you to pick a careerWhen you can't really function you're so full of fear

Keep you doped with religion and sex and TVAnd you think you're so clever and classless and freeBut you're still peasants as far as I can see




Selamat siang teman-teman semua, hari ini pada tanggal 1 Mei kita kembali memperingati hari buruh, hari dimana buruh terlihat begitu berkuasa. Namun, hanya 1x dalam setahun buruh bisa berkuasa 364 hari sisahnya merupakan milik pengusaha dan pemerintah dan buruh kembali menjadi buruh, budak kerja kaum kapitalis yang hanya memperkaya diri sendiri. Diatas merupakan lagu yang dibuat oleh John Lennon, seorang musisi dari Inggris tentang kaum buruh. Dalam lagu ini memiliki makna yang begitu dalam yang sebenarnya tidak pernah kita sadari. 

 "Dari engkau lahir, mereka telah membuat dirimu terasa kecil, menyakiti drimu dirumah dan memukulmu disekolah, mereka membenci dirimu jika kamu menjadi pandai, mereka terus meyiksa engkau selama dua puluh tahun dan setelah itu mereka memaksamu untuk memilih pekerjaan, sampai kamu tidak bisa berfungsi lagi dan penuh rasa takut, Mereka terus meracunimu dengan agama, sex, dan televisi dan kamu berpikir bahwa kamu pandai dan bebas. Tetapi, kamu tetap buruh " 

Kurang lebih seperti inilah makna lagu dari John Lennon yang mengambarkan tentang buruh pada zamannya yang pada faktanya sampai sekarang tidak ada yang berubah. DI indonesia sendiri masih banyak yang menganggap buruh adalah pekerja yang hanya mengandalkan otot dan tidak pernah menggunakan pikiran mereka dalam bekerja. Disinilah hal yang sangat ingin saya kritisi, banyak orang yang menyalahkan pengusaha-pengusaha dan pemerintah dalam masalah buruh dan ketenagakerjaan. Iya saya setuju ini adalah salah mereka. Namun, yang lebih saya salahkan disini adalah sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia. Sampai saat ini pendidikan yang kita dapat  di Indonesia hanya meciptakan kita sebagai pekerja yang akhirnya menjurus menjadi yang sekarang ini disebut buruh.  Satu lagi, di indonesia masih banyak yang tidak mengerti arti dari kata "Buruh" ini sendiri. Mereka yang bekerja di kantoran enggan disebut sebagai buruh, karena bagi mereka, buruh adalah orang yang bekerja hanya menggunakan otot dan tidak menggunakan pikiran, sedangkan mereka yang bekerja dengan menggunakan tidak ingin disebut sebagai buruh. Padahal dalam kamus besar Bahasaa Indonesia 

"buruh" adalah "pekerja" dan semua orang yang bekerja baik itu menggunakan otak dan otot adalah buruh. Disini saya sangat menyalahkan peran dari pendidik-pendidik yang ada terutama di Indonesia. Para pendidik hanya terus menanamkan doktrin "belajarlah yang rajin hingga engkau akan menjadi pintar. Lalu, setelah itu engkau akan mendapatkan pekerjaan yang layak" Ya, dari kita duduk di sekolah dasar kita telah di doktrin untuk menjadi pekerja, untuk menjadi budak untuk orang lain yang memiliki kekuasaan. Apabila kita tidak mendapatkan pendidikan yang baik, kita hanya bisa menjadi buruh kasar, contohnya: buruh bangunan dan buruh kasar. Namun, apabila kita sedikit beruntung dan dapat melewati semua jenjang pendidikan maka kita akan menjadi buruh yang sedikit beruntung pula karena dapat bekerja didalam kantor. dan tampaknya para pengusaha sangat tidak keberatan dengan "doktrin" yang terus kita dapat ini. Ini terlihat dari bagaimana cara mereka menerima lowongan pekerjaan. Ya, kebanyakan perusahan akan menuliskan, salah satu syarat untuk diterima bekerja harus mendapatkan nilai tertentu dalam bidang pendidikan, tanpa memperdulikan bagaimana cara mereka mendapatkan nilai tersebut, orientasi hasil bukan orientasi proses. 

Sangat menyedihkan melihat nasib buruh yang ada saat ini, mereka hanya dibentuk untuk menjadi budak dan bekerja demi golongan tertentu. Sedangkan Undang-Undang Ketenagakerjaan no 13 th.2013 dibuat lebih menguntungkan kaum pengusaha atau yang bisa dibilang kaum yang "mempunyai uang" Inilah gambaran Indonesia saat ini, belum dimulai memang. Namun, telah mulai terlihat bahwa adanya perbedaan antara si"miskin dan si"kaya, atasan dan bawahan serta pengusaha dan buruh. Apabila iniu terus dibiarkan makan tidak bisa dipungkiri Indonesia akan terpecah menjadi dua kubuh "buruh" melawan "pengusaha" dan dipimpin oleh wasit yang bernama "pemerintah" bisa jadi wasitnya sendiriopun akan memihak "mereka yang bisa membayar"

INGAT, BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI BURUH
Pro Ecllesia Et Patria !!!!!

Dart_leonhart